Showing posts with label Pencerahan. Show all posts
Showing posts with label Pencerahan. Show all posts

Gugur Tak Menyerah


pejagailmu.blogspot.com
Satu satu.,.
Runtuh, jatuh.,
lalu terbengkalai di bumi.,
busuk tiada berguna.
rapuh merampuh.,
menjadi lunak lalu hancur sebagai debu.

ranggas ranggas yang menggerogoti.
panas terik merasuk membunuh jari jemari.
gugur berguguran.
sepanjang musim.,

terkira hidup kan berakhir.
sangka sangka pesimis melayukan nurani.,
menghancurkan serpihan semangat.,
berharap musim segera berganti.,
hingga nurani tersiram benih kasih penyejuk.,

gugur takkan menyerah.
meski habis segala apa yang ada.,
kan selalu menunggu.,
kembalinya tetesan embun kehidupan.,
menyemai kembali benih diri.,

semi bersemi
setelah gugur berlalu.
setelah menakhlukan segala emosi.,
berpisah dengan kesuntukan dan kegelisahan.
tumbuh sebagai satu harapan utuh.
satu persatu.
berganti mengganti.,
yang berguguran semakin menguatkan.,
menjadi satu jiwa kembali.,.
meninggikan asa samakin menjelang langit.,

gugur takkan menyerah.,
selepas kesulitan ada kemudahan kemudahan.,
segeralah.,.
selepas berakhir sebuah amal menuju amal selanjut.

seperti Pohon itu.,

(pejaga ilmu)

Perjalanan Langit

Setelah perjalanan dari Masjidill Haram di Makkah Hingga masjidil Aqsa di palestina ditempuh oleh beliau SAW dengan ditemani Jibril dan Mikail, begitu banyak keajaiban dan hikmah yang beliau temui dalam perjalanan sampai akhirnya beliau berhenti di Baitul Maqdis (Masjid al Aqsho).
pejagailmu.blogspot.com
 Beliau turun dari Buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi pintu masjid, yakni tempat dimana biasanya Para Nabi mengikat buraq di sana. Kemudian beliau masuk ke dalam masjid bersama Jibril AS, masing-masing sholat dua rakaat. Setelah itu sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh dengan sekelompok manusia, ternyata mereka adalah para Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian dikumandangkan adzan dan iqamah, lantas mereka berdiri bershof-shof menunggu siapakah yang akan mengimami mereka, kemudian Jibril AS memegang tangan Rasulullah SAW lalu menyuruh beliau untuk maju, kemudian mereka semua sholat dua rakaat dengan Rasulullah sebagai imam. Beliaulah Imam (Pemimpin) para Anbiya‟ dan Mursalin.

Setelah itu Rasulullah SAW merasa haus, lalu Jibril membawa dua wadah berisi khamar dan susu, Rasulullah memilih wadah berisi susu lantas meminumnya, Jibril berkata: “Sungguh anda telah memilih kefitrahan yaitu al Islam, jika anda memilih khamar niscaya umat anda akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat anda”.

Kemudian setelah beliau menyempurnakan segalanya, maka tiba saatnya beliau melakukan mi‟raj yakni naik bersama Jibril menembus langit satu persatu sampai akhirnya berjumpa dengan Khaliq-nya. Setelah melakukan Isra‟ dari Makkah al Mukarromah sampai ke Masjid al Aqsha, Baitul Maqdis, kemudian beliau disertai malaikat Jibril AS siap untuk melakukan Mi‟raj yakni naik menembus berlapisnya langit ciptaan Allah yang Maha Perkasa sampai akhirnya beliau SAW berjumpa dengan Allah dan berbicara dengan Nya, yang intinya adalah beliau dan umat ini mendapat perintah sholat lima waktu. Sungguh merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di mana Allah SWT memanggil Nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan menentukan perintah ibadah yang sangat mulya ini. Cukup kiranya hal ini sebagai kemulyaan ibadah sholat. Sebab ibadah lainnya diperintah hanya dengan turunnya wahyu kepada beliau, namun tidak dengan ibadah sholat, Allah memanggil Hamba yang paling dicintainya yakni Nabi Muhammad SAW ke hadirat Nya untuk menerima perintah ini.

Ketika beliau dan Jibril sampai di depan pintu langit dunia (langit pertama), ternyata disana berdiri malaikat yang bernama Ismail, malaikat ini tidak pernah naik ke langit atasnya dan tidak pernah pula turun ke bumi kecuali disaat meninggalnya Rasulullah SAW, dia memimpin 70 ribu tentara dari malaikat, yang masing-masing malaikat ini membawahi 70 ribu malaikat pula. Jibril meminta izin agar pintu langit pertama dibuka, maka malaikat yang menjaga bertanya: “Siapakah ini?” Jibril menjawab: “Aku Jibril.” Malaikat itu bertanya lagi: “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab: “Muhammad saw.” Malaikat bertanya lagi: “Apakah beliau telah diutus (diperintah)?” Jibril menjawab: “Benar”. Setelah mengetahui kedatangan Rasulullah malaikat yang bermukim disana menyambut dan memuji beliau dengan berkata: “Selamat datang, semoga keselamatan menyertai anda wahai saudara dan pemimpin, andalah sebaik-baik saudara dan pemimpin serta paling utamanya makhluk yang datang”. Maka dibukalah pintu langit dunia ini”.

Setelah memasukinya beliau bertemu Nabi Adam dengan bentuk dan postur sebagaimana pertama kali Allah menciptakannya. Nabi saw bersalam kepadanya, Nabi Adam menjawab salam beliau seraya berkata: “Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan nabi yang sholeh”. Di kedua sisi Nabi Adam terdapat dua kelompok, jika melihat ke arah kanannya, beliau tersenyum dan berseri-seri, tapi jika memandang kelompok di sebelah kirinya, beliau menangis dan bersedih. Kemudian Jibril AS menjelaskan kepada Rasulullah, bahwa kelompok disebelah kanan Nabi Adam adalah anak cucunya yang bakal menjadi penghuni surga sedang yang di kirinya adalah calon penghuni neraka.
Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanannya di langit pertama ini, tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada kelompok manusia yang dihidangkan daging panggang dan lezat di hadapannya, tapi mereka lebih memilih untuk menyantap bangkai disekitarnya. Ternyata mereka adalah manusia yang suka berzina, meninggalkan yang halal untuk mereka dan mendatangi yang haram.
Kemudian beliau berjalan sejenak, dan tampak di hadapan beliau suatu kaum dengan perut membesar seperti rumah yang penuh dengan ular-ular, dan isi perut mereka ini dapat dilihat dari luar, sehingga mereka sendiri tidak mampu membawa perutnya yang besar itu. Mereka adalah manusia yang suka memakan riba.Disana beliau juga menemui suatu kaum, daging mereka dipotong-potong lalu dipaksa agar memakannya, lalu dikatakan kepada mereka: “makanlah daging ini sebagaimana kamu memakan daging saudaramu di dunia, yakni menggunjing atau berghibah”.

Kemudian beliau naik ke langit kedua, seperti sebelumnya malaikat penjaga bertanya seperti pertanyaan di langit pertama. Akhirnya disambut kedatangan beliau SAW dan Jibril AS seperti sambutan sebelumnya. Di langit ini beliau berjumpa Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya, keduanya hampir serupa baju dan gaya rambutnya. Masing-masing duduk bersama umatnya. Nabi saw menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih kemerah-merahan warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam, karena kebersihan tubuhnya. Nabi menyerupakannya dengan sahabat beliau “Urwah bin Mas‟ud ats Tsaqafi. Nabi bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai sambutan: “Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.

Kemudian tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga, setelah disambut baik oleh para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin Ya‟kub. Beliau bersalam kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama seperti salamnya Nabi Isa. Nabi berkomentar: “Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan”. Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Dialah paling indahnya manusia yang diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain ibarat cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang”.

Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS. Kembali beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti Nabi-Nabi sebelumnya. Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin “Imran AS, separuh janggutnya hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Di sekitar Nabi Harun tampak umatnya sedang khusyu‟ mendengarkan petuahnya. Setelah sampai di langit keenam, beliau berjumpa beberapa nabi dengan umat mereka masing-masing, ada seorang nabi dengan umat tidak lebih dari 10 orang, ada lagi dengan umat di atas itu, bahkan ada lagi seorang nabi yang tidak ada pengikutnya. Kemudian beliau melewati sekelompok umat yang sangat banyak menutupi ufuk, ternyata mereka adalah Nabi Musa dan kaumnya. Kemudian beliau diperintah agar mengangkat kepala beliau yang mulya, tiba-tiba beliau tertegun dan kagum karena pandangan beliau tertuju pada sekelompok umat yang sangat banyak, menutupi seluruh ufuk dari segala sisi, lalu ada suara: “Itulah umatmu, dan selain mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab “.

Pada tahapan langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, seorang nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Nabi saw bersalam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa berkata: “Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulyanya manusia di sisi Allah, padahal dia (Rasulullah saw) lebih mulya di sisi Allah daripada aku”. Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya akan hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku”. Kemudian Rasulullah saw memasuki langit ketujuh, di sana beliau berjumpa Nabi Ibrahim AS sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur, di sekitarnya berkumpul umatnya. Setelah Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta sambutan yang baik, Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah umatmu untuk banyak menanam tanaman surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat luas”. Rasulullah bertanya: “Apakah tanaman surga itu?”, Nabi Ibrahim menjawab: “(Dzikir) Laa haula wa laa quwwata illa billahil “aliyyil “adziim”. Dalam riwayat lain beliau berkata: “Sampaikan salamku kepada umatmu, beritakanlah kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”.

Kemudian Rasulullah diangkat sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon amat besar sehingga seorang penunggang kuda yang cepat tidak akan mampu untuk mengelilingi bayangan di bawahnya sekalipun memakan waktu 70 tahun. Dari bawahnya memancar sungai air yang tidak berubah bau, rasa dan warnanya, sungai susu yang putih bersih serta sungai madu yang jernih. Penuh dengan hiasan permata zamrud dan sebagainya sehingga tidak seorang pun mampu melukiskan keindahannya. Kemudian beliau saw diangkat sampai akhirnya berada di hadapan telaga Al Kautsar, telaga khusus milik beliau saw. Setelah itu beliau memasuki surga dan melihat disana berbagai macam kenikmatan yang belum pernah dipandang mata, didengar telinga dan terlintas dalam hati setiap insan. Begitu pula ditampakkan kepada beliau neraka yang dijaga oleh malaikat Malik, malaikat yang tidak pernah tersenyum sedikitpun dan tampak kemurkaan di wajahnya. Dalam satu riwayat, setelah beliau melihat surga dan neraka, maka untuk kedua kalinya beliau diangkat ke Sidratul Muntaha, lalu beliau diliputi oleh awan dengan beraneka warna, pada saat inilah Jibril mundur dan membiarkan Rasulullah berjalan seorang diri, karena Jibril tahu hanya beliaulah yang mampu untuk melakukan hal ini, berjumpa dengan Allah SWT. Setelah berada di tempat yang ditentukan oleh Allah, tempat yang tidak seorang makhlukpun diizinkan berdiri disana, tempat yang tidak seorangpun makhluk mampu mencapainya, beliau melihatNya dengan mata beliau yang mulya. Saat itu langsung beliau bersujud di hadapan Allah SWT. Allah berfirman: “Wahai Muhammad.” “Labbaik wahai Rabbku”, sabda beliau. “Mintalah sesuka hatimu”, firman Nya. Nabi bersabda: “Ya Allah, Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kawan dekat), Engkau mengajak bicara Musa, Engkau berikan Dawud kerajaan dan kekuasaan yang besar, Engkau berikan Sulaiman kerajaan agung lalu ditundukkan kepadanya jin, manusia dan syaitan serta angin, Engkau ajarkan Isa at Taurat dan Injil dan Engkau jadikan dia dapat mengobati orang yang buta dan belang serta menghidupkan orang mati”. Kemudian Allah berfirman: “Sungguh Aku telah menjadikanmu sebagai kekasihKu”.
pejagailmu.blogspot.com

Dalam Shohih Imam Muslim diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, bahwa rasulullah bersabda: ” … kemudian Allah mewajibkan kepadaku (dan umat) 50 sholat sehari semalam, lalu aku turun kepada Musa (di langit ke enam), lalu dia bertanya: “Apa yang telah Allah wajibkan kepada umat anda?” Aku menjawab: “50 sholat”, Musa berkata: “kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan sebab umatmu tidak akan mampu untuk melakukannya”, Maka aku kembali kepada Allah agar diringankan untuk umatku, lalu diringankan 5 sholat (jadi 45 sholat), lalu aku turun kembali kepada Musa, tapi Musa berkata: “Sungguh umatmu tidak akan mampu melakukannya, maka mintalah sekali lagi keringanan kepada Allah”. Maka aku kembali lagi kepada Allah, dan demikianlah terus aku kembali kepada Musa dan kepada Allah sampai akhirnya Allah berfirman: “Wahai Muhammad, itu adalah kewajiban 5 sholat sehari semalam, setiap satu sholat seperti dilipatgandakan menjadi 10, maka jadilah 50 sholat”. Maka aku beritahukan hal ini kepada Musa, namun tetap dia berkata: “Kembalilah kepada Rabbmu agar minta keringanan”, Maka aku katakan kepadanya: “Aku telah berkali-kali kembali kepadaNya sampai aku malu kepadaNYa”. Setelah beliau menerima perintah ini, maka beliau turun sampai akhirnya menaiki buraq kembali ke kota Makkah al Mukarromah, sedang saat itu masih belum tiba fajar.

Pagi harinya beliau memberitahukan mukjizat yang agung ini kepada umatnya, maka sebagian besar diantara mereka mendustakan bahkan mengatakan nabi telah gila dan tukang sihir, saat itu pertama umat yang membenarkan dan mempercayai beliau adalah Sayyiduna Abu Bakar, maka pantaslah beliau bergelar As Shiddiq, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang tadinya beriman, kembali murtad keluar dari syariat. Sungguh keimanan itu intinya adalah membenarkan dan percaya serta pasrah terhadap semua yang dibawa dan diberitakan Nabi Muhammad SAW, sebab beliau tidak mungkin berbohong apalagi berkhianat dalam Risalah dan Dakwah beliau. Beliaulah Nabi yang mendapat gelar Al Amiin (dipercaya), Ash Shoodiq (selalu jujur) dan Al Mashduuq (yang dibenarkan segala ucapannya). Shollallahu “alaihi wa aalihi wa sallam.

Inilah ringkasan dari perjalanan Isra dan Mi‟raj Nabi Muhammad SAW. waallohualam bishawab..

Related Perjalanan Malam

Menari Bersama Udara


pejagailmu.blogspot.com


Membalut mendekap menyelimuti diri.,
lembut terurai tersibak lentik cahaya.,
sripat sripit dalam belaian nada
memenuhi segala ruang hingga terpecah dalam darah
udara udara
lincah nian menari dalam hangatnya hawa yang membeku.
bercerita wacana-wancana zaman yang semakin kusam.
jangan kalut
bisa saja kau memporak poranda karena kegelisahan yang mendera
jangan terburu nafsu
bisa jadi panas yang membara membawamu hanya sekejap semata
bertahanlah sejenak dalam nafasmu
ikuti irama yang mengalun
hentakan dengan mempesona
kuasai naluri
lalu melayanglah membawa suasana menjadi apa yang kau kira dan kau sangka
udara berangin-angin
menari seiring jiwa yang bernyanyi.,
menyanyikan segala harap dan cita.
udara kesana kemari nan anggun
menggoda pujaan hati
menyembut jemari jemari
berselendang pelangi pelagi mimpi.
menari bersama udara
menata jiwa jiwa dalam ketenangan
merenungi diri mengarungi samudra hati
lembut tapi kuat membaja
tegas dalam sikap namun lembut dalam sifat
menari menari
mengalun hingga sepi dalam mati.,.(pejaga ilmu)

Perjalanan Malam

Napak Tilas
mengambil hikmah dari sebuah peristiwa yang akan sulit dipercaya kecuali dengan keimanan.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidil aksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."(Q.S Al-Isra; 1)

Dalam perjalanan ini banyak sekali kejadian yang di alami oleh baginda Rosululloh SAW. berikut kisahnya.

 pejagailmu.blogspot.com

Pada suatu malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka‟bah al Musyarrofah, saat itu beliau berbaring diantara paman beliau, Sayyiduna Hamzah dan sepupu beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib, tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil menghampiri beliau lalu membawa beliau ke arah sumur zamzam, setibanya di sana kemudian mereka merebahkan tubuh Rasulullah untuk dibelah dada beliau oleh Jibril AS. Dalam riwayat lain disebutkan suatu malam terbuka atap rumah Beliau saw, kemudian turun Jibril AS, lalu Jibril membelah dada beliau yang mulya sampai di bawah perut beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail: “Datangkan kepadaku nampan dengan air zam-zam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya”. Dan perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor, tidak, justru Nabi sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling suci dan mulya, hal ini tidak lain untuk menambah kebersihan diatas kebersihan, kesucian diatas kesucian, dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati beliau, karena akan melakukan suatu perjalanan maha dahsyat dan penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan Allah SWT. Kemudian Jibril AS mengeluarkan hati beliau yang mulya lalu menyucinya tiga kali, kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan, kemudian dituangkan ke dalam hati beliau, maka penuhlah hati itu dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah, lalu ditutup kembali oleh Jibril AS. Setelah itu disiapkan untuk Baginda Rasulullah binatang Buroq lengkap dengan pelana dan kendalinya, binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah dari baghal, dia letakkan telapak kakinya sejauh pandangan matanya, panjang kedua telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya, diciptakan dengan dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya. Saat hendak menaikinya, Nabi Muhammad merasa kesulitan, maka meletakkan tangannya pada wajah buroq sembari berkata: “Wahai buroq, tidakkah kamu merasa malu, demi Allah tidak ada Makhluk Allah yang menaikimu yang lebih mulya daripada dia (Rasulullah)”, mendengar ini buroq merasa malu sehingga sekujur tubuhnya berkeringat, setelah tenang, naiklah Rasulullah keatas punggungnya, dan sebelum beliau banyak Anbiya‟ yang menaiki buroq ini.
Dalam perjalanan, Jibril menemani disebelah kanan beliau, sedangkan Mikail di sebelah kiri, menurut riwayat Ibnu Sa‟ad, Jibril memegang sanggurdi pelana buroq, sedang Mikail memegang tali kendali. (Mereka terus melaju, mengarungi alam Allah SWT yang penuh keajaiban dan hikmah dengan Inayah dan RahmatNya), di tengah perjalanan mereka berhenti di suatu tempat yang dipenuhi pohon kurma, lantas malaikat Jibril berkata: “Turunlah disini dan sholatlah”, setelah Beliau sholat, Jibril berkata: “Tahukah anda di mana Anda sholat?”, “Tidak”, jawab beliau, Jibril berkata: “Anda telah sholat di Thoybah (Nama lain dari Madinah) dan kesana anda akan berhijrah”.
Kemudian buroq berangkat kembali melanjutkan perjalanan, secepat kilat dia melangkahkan kakinya sejauh pandangan matanya, tiba-tiba Jibril berseru: “berhentilah dan turunlah anda serta sholatlah di tempat ini!”, setelah sholat dan kembali ke atas buroq, Jibril memberitahukan bahwa beliau sholat di Madyan, di sisi pohon dimana dahulu Musa bernaung dibawahnya dan beristirahat saat dikejar-kejar tentara Firaun. Dalam perjalanan selanjutnya Nabi Muhammad turun di Thur Sina‟, sebuah lembah di Syam, tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allah SWT, beliau pun sholat di tempat itu. Kemudian beliau sampai di suatu daerah yang tampak kepada beliau istana-istana Syam, beliau turun dan sholat disana. Kemudian Jibril memberitahukan kepada beliau dengan berkata: “Anda telah sholat di Bait Lahm (Betlehem, Baitul Maqdis), tempat dilahirkan Nabi Isa bin Maryam”. Setelah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba beliau melihat Ifrit dari bangsa Jin yang mengejar beliau dengan semburan api, setiap Nabi menoleh beliau melihat Ifrit itu. Kemudian Jibril berkata: “Tidakkah aku ajarkan kepada anda beberapa kalimat, jika anda baca maka akan memadamkan apinya dan terbalik kepada wajahnya lalu dia binasa?” Kemudian Jibril AS memberitahukan doa tersebut kepada Rasulullah.
pejagailmu.blogspot.com
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan sampai akhirnya bertemu dengan suatu kaum yang menanam benih pada hari itu dan langsung tumbuh besar dan dipanen hari itu juga, setiap kali dipanen kembali seperti awalnya dan begitu seterusnya, melihat keanehan ini Beliau SAW bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”, Jibril menjawab:” mereka adalah para Mujahid fi sabilillah, orang yang mati syahid di jalan Allah, kebaikan mereka dilipatgandakan sampai 700 kali.

Kemudian beberapa saat kemudian beliau mencium bau wangi semerbak, beliau bertanya: “Wahai Jibril bau wangi apakah ini?”, “Ini adalah wanginya Masyithoh, wanita yang menyisir anak Firaun, dan anak-anaknya”, jawab Jibril AS. Masyitoh adalah tukang sisir anak perempuan Firaun, ketika dia melakukan pekerjaannya tiba-tiba sisirnya terjatuh, spontan dia mengatakan: “Bismillah, celakalah Firaun”, mendengar ini anak Firaun bertanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain ayahku?”, Masyithoh menjawab: “Ya”. Kemudian dia mengancam akan memberitahukan hal ini kepada Firaun. Setelah dihadapkan kepada Raja yang Lalim itu, dia berkata: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain aku?”, Masyithoh menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”. Mengetahui keteguhan iman Masyithoh, kemudian Firaun mengutus seseorang untuk menarik kembali dia dan suaminya yang tetap beriman kepada Allah agar murtad, jika tidak maka mereka berdua dan kedua anaknya akan disiksa, tapi keimanan masih menetap di hati Masyithoh dan suaminya, justru dia berkata: “Jika kamu hendak membinasakan kami, silahkan, dan kami harap jika kami terbunuh kuburkan kami dalam satu tempat”. Maka Firaun memerintahkan agar disediakan kuali raksasa dari tembaga yang diisi minyak dan air kemudian dipanasi, setelah betul-betul mendidih, dia memerintahkan agar mereka semua dilemparkan ke dalamnya, satu persatu mereka syahid, sekarang tinggal Masyithoh dan anaknya yang masih menyusu berada dalam dekapannya, kemudian anak itu berkata: “Wahai ibuku, lompatlah, jangan takut, sungguh engkau berada pada jalan yang benar”, kemudian dilemparlah dia dan anaknya.

Kemudian di tengah perjalanan, beliau juga bertemu dengan sekelompok kaum yang menghantamkan batu besar ke kepala mereka sendiri sampai hancur, setiap kali hancur, kepala yang remuk itu kembali lagi seperti semula dan begitu seterusnya. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah manusia yang merasa berat untuk melaksanakan kewajiban sholat. Kemudian beliau juga bertemu sekelompok kaum, di hadapan mereka ada daging yang baik yang sudah masak, sementara di sisi lain ada daging yang mentah lagi busuk, tapi ternyata mereka lebih memilih untk menyantap daging yang mentah lagi busuk, ketika Rasulullah menanyakan perihal ini, Jibril menjawab: “Mereka adalah manusia yang sudah mempunyai isteri yang halal untuknya, tapi dia justru berzina (berselingkuh) dengan wanita yang jelek (hina), dan begitupula mereka adalah para wanita yang mempunyai suami yang halal baginya tapi justru dia mengajak laki-laki lain untuk berzina dengannya”. Ketika beliau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang memanggil beliau dari arah kanan: “Wahai Muhammad, aku meminta kepadamu agar kamu melihat aku”, tapi Rasulullah tidak memperdulikannya. Kemudian Jibril menjelaskan bahwa itu adalah panggilan Yahudi, seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat beliau akan menjadi Yahudi. Begitu pula beliau mendapat seruan serupa dari sebelah kirinya, yang tidak lain adalah panggilan nashrani, namun Nabi tidak menjawabnya. Walhamdulillah. Kemudian tiba-tiba muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala perhiasan di tangannya dan seluruh tubuhnya, dia berkata: “Wahai Muhammad lihatlah kepadaku”, tapi Rasulullah tidak menoleh kepadanya, Jibril berkata: “Wahai Nabi itu adalah dunia, seandainya anda menjawab panggilannya maka umatmu akan lebih memilih dunia daripada akhirat”.

Wallohu"alambishawab.

Hikmah Menuju Pasar

Teringat dlu ketika menyaksikan sebuah cerita pendek di sinetron ramadha yang berjudul lorong waktu yang berkisah tentang ayah dan anaknya yang sedang menuju pasar. jadi begini ceritanya.

pejagailmu.blogspot.com
Suatu hari ada seorang ayah dan anaknya yang bepergian menuju ke pasar dengan menaiki keledai. Tujuannya untuk menjual keledai tersebut. Karena jaraknya yang cukup jauh diperlukan waktu hampir setengah hari.
Mereka membawa keledainya dengan dituntun. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan orang yang baru kembali dari pasar. Orang tersebut kemudian berkata “ Kenapa kalian capek-capek berjalan kaki. Bukankah keledai dapat dinaiki? Alangkah enaknya jika kalian naik saja keledai itu”

Mendengar perkataan itu, ayah dan anaknya kemudian menaiki keledai itu. Keledai itu ternyata tak cukup besar sehingga terlihat kepayahan. Tetapi karena lebih menghemat tenaga maka mereka tetap menaikinya.
Tak berapa lama, bertemulah mereka dengan penjual sayuran yang sedang menunggu pembeli memilih-milih sayurannya. Kemudian penjual sayuran itu melihat keledai yang kepayahan membawa ayah dan anaknya di punggungnya. “ Ah betapa kasihannya keledai itu, sudah badannya kecil dinaiki oleh ayah dan anaknya yang berat. Benar-benar tidak memiliki kepedulian kepada hewan.”

Mendengar perkataan tersebut, ayah dan anaknya turun dari keledai. Kemudian memutuskan bahwa sebaiknya satu orang saja yang menaiki keledai, satu orang yang menuntun keledai. Maka diputuskanlah anaknya yang naik keledai sementara ayahnya menuntun keledai.
Di tengah perjalanan, di sebuah persimpangan bertemulah mereka dengan penjual sapi dan anaknya. Si penjual sapi berceletuk “ Lihatlah nak, itu contoh anak yang tidak berbakti kepada orangtuanya. Sang ayah bercapek-capek sementara ia ber-enak-enak di atas keledai.”

Mendengar perkataan tersebut sang anak berkata kepada ayahnya “Yah sebaiknya ayah yang naik dan aku yang menuntun, aku tak mau dikatakan tidak berbakti.” Sang ayahpun menyetujuinya. Sekarang bergantian sang anak yang menuntun sementara sang ayah naik keledai.
Sepertiga jalan dari pasar, mereka bertemu dengan seorang kakek dan cucunya yang sedang berjalan-jalan. Sang kakek berkata “ Lihatlah cucuku, itulah contoh ayah yang tidak sayang kepada anaknya. Si anak bersusah payah berjalan sementara ayahnya naik keledai.”

Mendengar perkataan itu sang ayah menjadi merenung. Benar juga, pikirnya. Kemudian dia turun dan mengajak musyawarah anaknya. “ Nak kelihatannya kita sellau serba salah, kita tuntun keledai salah, naik berdua juga salah. Kamu yang naik, aku yang menuntun salah. Apalagi aku yang naik sementara kamu menuntun. Sebaiknya kita apakan keledai ini?”
Anaknya berpikir sejenak. “ Ayah bagaimana kalau kita pikul saja keledai ini. Siapa tahu memang itu cara terbaik.” Sang ayah setuju. Kemudian mulai mengikat kaki keledai kemudian memanggul keledai itu bersama anaknya. Merasa sudah benar mereka dengan penuh percaya diri memasuki pasar. Tetapi banyak orang menertawakannya. Banyak yang bilang “ Keledai bisa berjalan sendiri kok dipanggul. Kan jadi memberatkan. Dasar orang yang aneh.”

Mendengar perkataan tersebut sang ayah kehabisan akal. Mau gimana lagi biar tidak salah membawa keledai itu.

Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita dia atas adalah bahwa kita harus punya pendirian yang kuat. tidak harus setiap yang dikatakan atau masukan orang kepada kita harus kita kerjakan, tapi kita harus punya alasan kenapa kita melakukannya atau tidak melakukannya.,.semoga bermanfaat.

Mendustakan Nikmat

Matahari baru saja menampakkan cahaya hangatnya.
pejagailmu.blogspot.com
Dengan berat mata terbuka membuka jendela.
menghirup udara segar mengisi paru yang dahaga.
air yang merepa seakan mengisi jiwa yang mati menjadi bangun kembali
pernahkah kita terperanjak?
saat terbaring sakit
udara ditiupkan dengan tabung besar
makanan disuntikan lewat lengan lengan
maka nikmat Tuhanu yang mana yang kamu dustakan?
pernahkah kita berdoa sebanyak-banyaknya?
dengan permintaan permintaan terhebat?
lalu Alloh mengabulkannya
atau ALLOH tidak mengabulkannya namu dengan tidak terduga hati tetap tenang dan ridho kemudian
atau bahkan kita lalai dengan kewajiban-kewajiban kita?
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34)

sesungguhnya ibadah kita tidak akan cukup untuk membayar segala nikmat
namun sungguh ibadah kita sejatinya adalah wujud kesyukuran kita
semoga kita selalu dinaungi Hidayah istiqomah dalam ketaqwaan
pejagailmu.blogspot.com

Terinjak Bukan Berarti terHina


pejagailmu.blogspot.com

Ia memang alas tapi ia tak pernah beralasan
lalu mengelak segala apa yang ia terima
ia memang lemah terurai
tapi ia selalu menyatu lalu menjadi satu dan kokoh
kelembutannya mensucikan
meski yang ia dapat kotor dan jijik
apa yang kau lempat padanya Ia balas dengan keteduhan
apa yang kau hujamkan padanya Ia balas dengan kemanisan rasa
Ia terinjak
tapi Ia takkan menjadi hina
Ketegarannya sejalan dengan waktu hingga akhir masa
Hingga Ia akan diguncang seguncangnya
lalu hamburan cahanya menggelegar bagai kapas-kapas yang lembut hancur
lalu yang terbenam bangkit dari dalamnya
bersaksilah Ia tentang perjalanan jiwa-jiwa
kini Ia terhampar luas menjadi masyar yang membentang
Ia adalah tanah berpijak
Tanah dimana negeri-negeri berdiri menjadi saksi
Ia terinjak
Tapi Ia mulia
Ia adalah Bumi tempat berdiri dan mati
dimana kau berlaku bejat atau berlaku kesatria
sungguh dari sanalah manusia berasal
Dan padanya pula manusia kembali
lalu apa yang membuat kesombongan?
sedang setiap yang bernyawa pasti mati
Terinjak Bukan berarti Terhina
di dalam sebutir debu kemuliaan. (pejaga ilmu)

Tempat Terindah Menggantungkan Diri

pernahkah suatu kali merasakan kegalauan?
pernahkah merasakan terdesak kebutuhan yang sangat?
pernahkah merasakan kesendirian yang sangat?ketika teman sahabat bahkan keluarga seakan menjauh
kemanakah kita akan berpaling?
kemanakah kita akan mengadu?

Jawabannya adalah ALLOH
pejagailmu.blogspot.com

Salah satu nama Allah dalam Asma’ul Husna adalah Ash Shamad. Kata ini ada dalam Al- Quran surah Al-Ikhlas, dan memang kata Ash Shamad hanya disebut satu kali dalam Al-Quran. Ash Shamad berarti Allah Yang Maha Diperlukankan.

Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu, maka kita harus bergantung sepenuhnya hanya pada Allah. Dan apabila kita telah benar-benar hanya bergantung kepada Allah, maka bererti kita tidak akan pernah meminta sedikit pun kepada selain Allah. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui semua keperluan kita. Dan yang sesungguhnya adalah, tidak ada siapapun dan apapun yang dapat menolong kita, selain Allah dan atas keizinan Allah.

Dalam kehidupan kita di dunia, khususnya dalam memenuhi apa yang menjadi hajat keperluan hidup kita, masih ada dari kita yang kadang-kadang bergantung dan berharap pada mahluk, untuk itu sebagian dari kita sering berusaha sekuat tenaga untuk mendapat simpati dari mahluk. Ini adalah kekeliruan yang sangat besar, karena menggantungkan harapan pada makhluk yang hanya akan menimbulkan kekecewaan saja.

Pada dasarnya, mahluk yang kita jadikan tumpuan harapan, sebenarnya tidak punya kuasa apapun untuk dapat memenuhi harapan kita, tanpa izin dari Allah. Kerana hanya Allah lah yang dapat membuat segalanya terjadi. Allah jugalah yang mengatur senario dibalik segala peristiwa. Tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini, yang lepas dari pengawasan dan pemantauan-Nya. Jadi seharusnya kita hanya menggantungkan segala harapan hanya kepada Allah SWT, yang mana jiwa kita ini ada dalam genggamannya-Nya.

Jangan pernah berharap dan atau meminta pertolongan kepada mahluk, seberapa hebat pun ia dimata kita. karena, sehebat apapun, yang namanya mahluk, tidak akan pernah dapat memberikan pertolongan apapun kepada kita tanpa izin Allah. Dan pada dasarnya, semua mahluk sama dengan kita, iaitu selalu berhajat memohon bantuan pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, makhluk itu sangat lemah dan tidak memiliki daya serta kekuatan apapun selain dari yang diberikan oleh Allah.

jika kita hendak meminta pertolongan dan perlindungan, maka mintalah pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah, Yang Maha Kuat, Maha Perkasa dan Maha Melindungi. Kerana itu, kita harus melatih diri untuk tidak bergantung pada makhluk, termasuk pada harta, pasangan hidup, dan pertolongan manusia atau mahluk.

Perhatikan doa Rasulullah SAW berikut seperti yang disampaikan oleh Abdullah bin Umar RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan untaian doa ini ketika pagi dan petang :

" Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku. Lindungilah ketakutanku. Ya Allah peliharalah aku dari hadapanku, dari belakangku, dari sisi kananku, dari sisi kiriku, dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu diserang dari bawahku." [Hadith Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah]

Seperti itulah doa yang dimohon Rasulullah SAW. Mohon agar perlindungan dari Allah SAW selalu menyertainya dari semua sudut, dari semua sisi, tanpa celah dan lubang yang tersisa dan disetiap waktu. Meminta agar Allah SWT tak pernah membiarkannya menjadi sasaran dan korban semua kejahatan dari makhluk-makhluk-Nya. Sungguh-sungguh memohon harapan agar Allah SWT menyelamatkan agama, dunia dan akhiratnya, menutupi kekurangannya, membentengi ketakutannya.

Perhatikan juga doa yang diucapkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, yang meminta perlindungan kepada Allah SWT dari segala sisi. Memohon semua kebaikan dan menolak semua kejahatan. " Ya Allah, peliharalah aku dengan Islam ketika aku berdiri. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku duduk. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku terbaring. Jangan gembirakan orang yang memusuhiku dan yang menyimpan dengki kepadaku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua simpanan kebaikan yang ada di Tangan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh simpanan kejahatan yang ada di Tangan-Mu. " [Hadith Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak, I/525]

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir. Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iinu

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Mengenal Bulan Rajab

pejagailmu.blogspot.com
Bulan Rajab, merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih.

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

 ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

 Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”

 Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).
Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

 Apa Maksud Bulan Haram?

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

 1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”( Tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya.  

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

 Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali.

Semoga bulan Rajab menjadi ladang bagi kita untuk beramal sholih.

Rumah Idaman Penghuni Surga


pejagailmu.blogspot.com
Mempunyai rumah indah dan nyaman adalah keinginan setiap manusia. Di dunia ini, untuk mempunyai rumah yang indah dan nyaman harus memeras keringat dahulu mencari uang, karena harganya yang mahal. Berbeda dengan membangun rumah di surga. Yang diperlukan adalah kekuatan untuk beramal shalih dan menahan hawa nafsu. Tentu rumah di surga jauh lebih indah dan nyaman, tak mungkin dapat digambarkan oleh pikiran kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada umatnya tentang amalan-amalan yang apabila dilakukan oleh manusia, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di surga. Yaitu:

1. Membangun masjid walaupun hanya sedikit.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sangkar burung atau lebih kecil dari itu, Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Ibnu majah dari hadits Jabir, dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani).

2. Menjaga sholat dluha empat raka’at dan qobliyah dzuhur 4 raka’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang shalat dluha empat raka’at dan qobliyah dzuhur empat raka’at, akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Ath Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Al AlBani dalam silsilah shahihah no 2346).

3. Menjaga sholat sunnah rawatib 12 raka’at
. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:,

من صلى في اليوم الليلة اثنتي عشرة ركعةً تطوعاً، بنى الله له بيتاً في
 الجنة
Barangsiapa yang shalat (rawatib) sehari semalam 12 raka’at, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Muslim, An nasai, Abu dawud, ibnu majah dari Ummu Habibah).
Shalat 12 raka’at itu adalah dua raka’at qobliyah shubuh, empat sebelum dzuhur dan dua setelahnya, dua setelah maghrib, dan dua setelah ‘isya sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat imam At Tirmidzi.

4. Membaca surat al ikhlash sepuluh kali. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من قرأ (قل هو الله أحد) عشر مرات بنى الله له بيتاً في الجنة .

“Barangsiapa yang membaca “Qulhuwallahu ahad” sepuluh kali, Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR Ahmad dari Mu’adz bin Anas dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 6472).

5. Membaca do’a masuk pasar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu yuhyii wayumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta keurukan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR At Tirmidzi, Ahmad, Ibnu majah, dan Al Hakim dari ibnu Umar. Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).

6. Mengucapkan alhamdulillah dan istirja’ ketika anak kita wafat.
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikatNya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hambaku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hambaku?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi rooji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hambaku di surga, dan namai ia rumah pujian.” (HR At Tirmidzi dari Abu musa Al Asy’ari dan dihasankan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).

7. Akhlak yang mulia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Aku menjamin dengan rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran walaupun ia dipihak yang benar. Aku menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun untuk ketika bercanda. Aku menjamin dengan rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR Abu dawud dari Abu Umamah dan dihasankan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).

8. Iman, islam, hijrah dan jihad.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, ia tidak membiarkan satupun kebaikan, dan lari dari semua keburukan, ia meninggal, di mana saja Dia kehendaki untuk meninggal.” (HR An Nasai, ibnu Hibban dan Al Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).
pejagailmu.blogspot.com

 Itu adalah amalan-amalan untuk membangun rumah di surga. Namun sebuah rumah butuh kamar-kamar dan kebun sehingga menjadi lebih sejuk dan nikmat dipandang mata. Adapun untuk membuat kamar-kamar yang istimewa, Rasulullah bersabda:

 “Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang luarnya tampak dari dalam, dan dalamnya tampak dari luar.” Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Untuk siapa ia wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Untuk orang yang baik ucapannya, memberi makan dan shalat di waktu malam.” (HR Ath thabrani dan Al hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).

Adapun untuk menanam pohon di surga, ia adalah dzikir kepada Allah sebagaimana dalam hadits:

 “Aku bertemu dengan Ibrahim di malam isra mi’raj. Ia berkata kepadaku, “Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya tawar, dan kini tanahnya masih kosong, dan tanamannya adalah subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallahu, wallahu akbar.” (HR At Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah). Subhanallah! Rumah itu kini mempunyai kamar-kamar yang istimewa, dan kebun-kebun yang indah. Untuk inilah kita berlomba-lomba. Ya Rabb, beri kami kekuatan untuk senantiasa beramal shalih, dan istiqomah di jalanMu sampai akhir hayat kami. Aamiiin

Tips-Tips Manajemen Waktu

 pejagailmu.blogspot.com
Seperti dalam post Manajemen Waktu 1 kemaren kita tahu betapa berharganya waktu. untuk itu agar waktu yang kita miliki tidak berjalan sia-sia atau malah merugikan kita kita perlu melakukan hal hal berikut:

1. optimalisasi waktu kita hendaknya memahami dan mengetahui cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang.

2. Memiliki manajemen hidup yang baik.
kita harus pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, matang dalam pertimbangan dan mempunyai perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakannya.

3. Memiliki pemikiran yang dinamis.
keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir wajib dimiliki, seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak, berpengetahuan luas, mampu memahami substansi pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar pengembangan berpikir ilmiah.
4. Visioner
yaitu memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yag akan terjadi di tahun-tahun mendatang.

5. Melihat secara utuh setiap persoalan
Setiap orang yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi, persoalan itu memiliki kaitan dengan yang lainnya.

6. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas
Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas, akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.

7. Tidak tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu
Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik.
Sementara, orang yang tergesa menginginkan agar dalam waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.

8. Berupaya seoptimal mungkin
Jika kita menginginkan terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.

9. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan
setiap kita harus memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu.

semoga dengan Tips Di atas  kita lebih dapat menjaga waktu kita.

Air Yang Rendah hati

Air
pejagailmu.blogspot.comBegitu rendah Hatinya
Namun tak rendah diri
lalu Hina
Air si rendah hati
selalu runtut kebawah, seperti sedang Malu
Namun Sungguh ia begitu lantang
seakan tak terhalang

Air yang Pandai bermain Emosi
mampu lambat lembut
mampu kalut Membawa Maut
tak Pernah ian Sombong akan diri
meski segenap makhluk slalu merindunya
berucap janji takkan Hidup tanpanya
Ia tetaplah air seperti yang kau kenal
rendah hatinya

Air Penasihat yang bijak
berbisik hangat pada rintik hujan lantun nan lebat
aduhai, ada apa dengan alam, ada apa dengan penghuni alam
hutan tertumbuk, sampah menumpuk
perlahan pelan Ia berbisik
si Air yang rendah hati
bergerak gemulai laun meninggi
Bah menutup daratan
sebuah bisikan peringatan
Pernah pula ia berteriak dalam SamudraIa takkan Tinggi hati
bahkan ketika kau pancarkan ia ke angkasa
Ia tetap runtut rendahkan Hati
bertasbih menyebut ke-Esa-an Illahi (pejaga ilmu)

Asuransi dalam Islam

Kehidupan manusia sarat dengan beragam macam resiko dan bahaya. Dan manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan dimana dia akan meninggal dunia. Resiko yang mengancam manusia sangatlah beragam, mulai dari kecelakaan transportasi udara, kapal, hingga angkutan darat. Manusia juga menghadapi kecelakaan kerja, kebakaran, perampokan, pencurian, terkena penyakit, bahkan kematian itu sendiri.

Untuk menanggulangi itu semua, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi yang bisa menjamin diri dan hartanya, yang kemudian dikenal dengan istilah asuransi. Asuransi ini termasuk muamalat kontemporer yang belum ada pada zaman nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, perlu ada penjelasan tentang hukumnya di dalam Islam
pejagailmu.blogspot.com 

Mengenal Asuransi

Asuransi berasal dari kata assurantie dalam bahasa Belanda, atau assurance dalam bahasa perancis, atau insurance dalam bahasa Inggris. Assurance berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi, sedang Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi.

Asuransi menurut terminologi sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992:

” Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan “

Insurance dalam islam

Asuransi Syariah (insurance sharia) adalah sebuah sistem dimana para peserta meng-infaq-kan/menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas pengelolaan operasional asuransi dan investasi dari dana-dana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.

Asuransi syari’ah disebut juga dengan asuransi ta’awun yang artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Asuransi ta’awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya :

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

Mengapa Insurance sharia?

Asuransi yang selama ini digunakan oleh mayoritas masyarakat (konvensional) bukan merupakan asuransi yang dikenal oleh para pendahulu dari kalangan ahli fiqh, karena tidak termasuk transaksi yang dikenal oleh fiqh Islam, dan tidak pula dari kalangan para sahabat yang membahas hukimnya.
Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang asuransi non syariah (konvensional) yang disebabkan oleh perbedaan ilmu dan ijtihad mereka. Alasannya antara lain :

1. Pada transaksi asuransi konvensional terdapat jahalah (ketidaktahuan) dan ghoror (ketidakpastian), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.

2. Di dalamnya terdapat riba atau syubhat riba. Hal ini akan lebih jelas dalam asuransi jiwa, dimana seseorang yang membeli polis asuransi membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Jadi pada hakekatnya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dan dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, maka ini jelas mengandung unsur riba, baik riba fadl dan riba nasi’ah.

3. Asuransi ini termasuk jenis perjudian (maysir), karena salah satu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan ia berhak mendapatkan semua harta yang dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun.

Melihat ketiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi dalam asuransi konvensional yang selama ini kita kenal, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip ta’awunnya, dapat diterima oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat pada beberapa tahun terakhir ini.

Asuransi syariah dengan perjanjian di awal yang jelas dan transparan serta aqad yang sesuai syariah, dimana dana-dana dan premi asuransi yang terkumpul (disebut juga dengan dana tabarru’) akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui investasi syar’i dengan berlandaskan prinsip syariah.

Dan pada akhirnya semua dana yang dikelola tersebut (dana tabarru’) nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya musibah/bencana/klaim yang terjadi diantara peserta asuransi. Melalui asuransi syari’ah, kita mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan untuk berasuransi syari’ah.
pejagailmu.blogspot.com
PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN KONVENSIONAL

Ada beberapa perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional.

Asuransi syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari MUI yang bertugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dananya. Dewan Pengawas Syariah ini tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.

Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari’ah berdasarkan tolong menolong. Sedangkan asuransi konvensional berdasarkan jual beli
Investasi dana pada asuransi syari’ah berdasarkan Wakallah bil Ujrah dan terbebas dari Riba. Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai bagian penempatan investasinya.
Kepemilikan dana pada asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.
Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.

Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Sedangkan pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan. demikin sepenggal pengetahuan tentang insurance semoga bermanfaat.

Menjaga Dua Surga

Sejatinya ada surga untuk masing-masing orang beriman. Surga yang mengalir sungai di bawahnya, yang Hijau warnanya, yang dekat buahnya, yang tidak memabukan araknya, yang indah perhiasaannya. banyak sekali jalan dan kunci surga, tapi banyak juga yang menghalangi nya.
kali ini kita akan melihat dua surga yang harus kita jaga agar kita benar benar memasuki surga itu, dua yang harus kita jaga adalah dua jalan nafsu, yaitu mulut dan kemaluan
Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”(H.R.Bukhori)
pejagailmu.blogspot.com
Mulut tempat masuknya makanan dan minuman kedalam diri kita dari sana pula ada makhluk yang bernama lisan sebagai tempat mengutarakan kata-kata, baik yang berasal dari hati ataupun dari pikiran. dari kata-kata inilah lisan bisa membawa ke surga bisa pula ke neraka.
“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah swt naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [6477, 6478] dan Muslim [2988])

Dari itu Rosululloh pun telah mengajarkan jika tidak mampu berkata baik maka lebih baik untuk diam.
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik, atau diam,” (Muttafaqun ‘alaih).

Kemudian yang kedua tempat nafsu syahwat diantara dua paha yang disebut kemaluan. dari sini banyak sekali manusia yang terjungkal dan terjerumus ke jurang nista, apa lagi di jaman sekarang di mana orang-orang menjunjung tinggi kebebasan. dari anak-anak, muda-mudi, sampai yang renta tersiar melakukan pelecehan ataupun hubungan tanpa status yang jelas. protistusi dimana mana sampai di dunia maya.
sungguh barang siapa mampu menjaga mulut dan kemaluan di (jamin)Insurance masuk surga. maka mari kita jaga dua surga ini, kita tempatkan kenikmatan duania pada tempat semestinya agar menjadi kenikmatan akhirat yang kekal.(pejagailmu)

Manajemen Waktu 1

pejagailmu.blogspot.compejagailmu.blogspot.compejagailmu.blogspot.com

for-single.blogspot.com
pejagailmu.blogspot.com










Waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah kepada Manusia. Sudah sepatutnya manusia memanfaatkannya seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah di bumi ini karen kita tidak dapat {menjamin} Insurance kapan kita mati dan waktu kita berakhir. Karena pentingnya waktu ini maka Allah swt telah bersumpah pada permulaan berbagai surat dalam al-quran yang turun di mekkah dengan berbagai macam bagian dari waktu. Misalnya bersumpah demi waktu malam, demi waktu siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, dan demi masa. Semisal dalam surat Al-Lail ayat 1-2, Allah berfirman:
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.”

Menurut pengertian yang popular di kalangan para mufassirin dan juga dalam perasaan kaum muslimin, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal itu mengandung maksud agar kaum muslimin memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan impressinya. Oleh karena itu, barang siapa terluput atau terlena dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang lain.
Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut.
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan. Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi.

Dalam ajaran Islam, ciri-ciri seorang muslim yang ideal adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim memiliki kewajiban untuk mengelola waktunya dengan baik. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan ayat 62 yang berbunyi: “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya. Dalam sejarah Rasulullah saw. dan orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap bahwa mereka sangat memperhatikan waktu, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi. Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari.

Waktu mempunyai karakteristik khusus yang istimewa. Kita wajib mengerti secara sungguh-sungguh dan wajib mempergunakannya sesuai dengan pancaran cahayanya. Di antara karakteristik waktu adalah sebagai berikut:

a. Cepat habis. Waktu itu berjalan laksana awan dan lari bagaikan angin, baik waktu senang atau suka ria maupun saat susah atau duka cita. Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira, maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan jika yang dihayati itu waktu prihatin, maka lewatnya masa-masa itu terasa lambat. Namun, pada hakikatnya tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah perasaan orang yang sedang menghayati masa itu sendiri. Kendati umur manusia dalam kehidupan dunia ini cukup panjang, namun pada hakikatnya umur manusia hanya sebentar, selama kesudahan yang hidup itu tibalah saat kematian. Dan tatkala mati telah merenggut, maka tahun-tahun dan masa yang dihayati manusia telah selesai, hingga laksana kejapan mata yang lewat bagaikan kilat yang menyambar.

b. Waktu yang telah habis tak akan kembali dan tak mungkin dapat diganti. Inilah ciri khas waktu dari berbagai karakteristik khusus waktu. Setiap hari yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti.

c. Modal terbaik bagi manusia. Oleh karena waktu sangat cepat habis, sedangkan yang telah lewat tak akan kembali dan tidak dapat diganti dengan sesuatu pun, maka waktu merupakan modal terbaik. Modal yang paling indah dan paling berharga bagi manusia. Keindahan waktu itu dapat diketahui melalui fakta bahwa waktu merupakan wadah bagi setiap amal perbuatan dan segala produktivitas. Karena itulah, maka secara realistis waktu itu merupakan modal yang sesungguhnya bagi manusia, baik secara individu (perorangan) maupun kolektif atau kelompok masyarakat.

dari sepenggal tulisan diatas kita harapkan kita lebih bijaksana dalam menggunakan waktu di hidup kita agar menjadi insan yang beruntung.

Memuliakan Tamu


pejagailmu.blogspot.comTok tok tok.,.di depan pintu, dilanjutkan dengan assalamualaikum, permisi, punten, any body home.,menunjukan adanya orang yang hendak berkepentingan kerumah kita, kita biasa menyebutnya Tamu. berbagai kepentigan dari yang simpel sampai yang serius bahkan misterius bisa saja di bawa sang tamu. ada yang sudah kita kenal, tentu kita tidak begitu curiga ataupun waspada, tapi jika tidak kita kenal? biasanya kita akan bertanya-tanya pada hati, dan penuh kecurigaan dan waspada. lalu sebenarnya apa yang harus kita lakukan kepada tamu yang datang di rumah kita? baik sudah kenal atau belum dikenal.

Islam ternyata sudah mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan setiap tamu yang datang ke rumah kita yaitu dengan "Memuliakan"

Rosululloh bersabda

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ [رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”[HR. Bukhari dan Muslim]

kemudian bagaimana cara kita memuliakan tamu?
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia mulyakan tamunya dengan pemberian untuknya sehari semalam. Hak bertamu adalah 3 hari, setelah itu adalah shodaqoh (H.R Abu Dawud)

Hadits ini menjelaskan cara memuliakan tamu dan hak menjamunya. Yaitu, apabila seorang tamu datang kerumah kita dan bermalam, hendaklah kita menjamunya pada malam yang pertama dengan sebaik-baik yang dapat kita sediakan. Pada hari yang kedua dan ketiga, kita berikan apa yang mudah saja. Sesudah tiga hari-tiga malam kita melayaninya sebagai tamu, habislah sudah haknya dan berakhir pula kewajiban kita terhadapnya. Dalam tiga hari itu, memang kita diwajibkan oleh agama unutk memuliakannya. Pada hari ia berangkat dari rumah kita, hendaklah kita berikan pada hari itu hadiah, yaitu kebutuhannya untuk sehari-semalam lamanya. Jika tamu kita itu tidak berangkat juga dari rumah kita pada hari keempat, segala yang kita berikan kepadanya dihukumkan sebagai sedekah. Haknya sebagai tamu telah habis dan kewajiban kita melayaninya sebagai tamu sudah selesai. Jadi batas perjamuan itu tiga hari-tiga malam saja. Lewat dari itu para tamu tidak boleh lagi tinggal di rumah kita kecuali bila kita rela menerimannya. Hal ini mengingat hadits Nabi SAW, “Dan tidak halal(tidak boleh) bagi para tamu berdiam lama-lama dirumah orang yang menerimanya, karena yang demikian itu memberatkan tuan rumah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
for-single.blogspot.com

Memuliakan tamu itu meliputi menyambut kedatangannya dengan air muka yang jernih dan menyenangkan selama ia berada ditempat kita (dalam batas perjamuan sebagaimana tersebut diatas) dan membicarakan yang baik-baik dengan dia. Selain itu juga mendudukannya (menempatkannya) ditempat yang baik dan kita sendiri yang melayaninya dan selama tiga hari kita menyiapkan makan-minumnya. Segera setelah kedatangannya, kita mesti mengajak minum ataupun makan jika waktunya tiba. Hatim Al-Asham berkata,”Bergegas-gegas itu tabiat setan. Kecuali bergegas-gegas dalam lima hal, karena yang lima ini berasal dari sunnah Rasulullah SAW : Perama, menyediakan makanan untuk tamu yang datang; kedua, menyelenggarakan(mengurus) jenazah; ketiga, mengawinkan gadis; keempat, menyelasaikan pembayaran utang; kelima, bertaubat dari dosa.”

Dan tentu jaminan (Insurance) keamanan, kenyamanan tamu harus kita berikan, insya Alloh berlimpah pahala. (pejagailmu)

Empat Nasib Manusia


Dilihat dari segi nasib, manusia akan mengalami bahagia atau sengsara baik di dunia ataupun di akhirat. bisa jadi seorang manusia akan bahagia di dunia tapi sengsara di akhirat, ada yang sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat, ada yang bahagia di dunia dan di akhirat, dan yang paling celaka tentu sengsara di dunia dan sengsara di akhirat.

Perlu digaris bawahi di sini bahwa "kebahagiaan di dunia" yang dimaksud bukanlah kebahagiaan hakiki berupa kebahagiaan dan ketenangan karena naungan ridho Illahi. tapi kebahagiaan seperti yang dipersepsikan kebanyakan orang berupa harta melimpah, hidup serba mudah, dan musibah seakan enggan bersinggah.

pejagailmu.blogspot.com
berikut adalah Empat Nasib Yang salah satunya akan dialami oleh seorang manusia

Pertama Bahagia di Dunia dan di Akhirat
bahagia di dunia dan akhirat tentu menjadi idaman setiap insan. munculnya semboyan "kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya mati masuk surga" menjadi khayalan tingkat tinggi. namun benarkah ada orang kaya di dunia yang kemudian mati masuk surga?. tentu saja jawabannya ada, itulah orang yang termasuk anugrah istimewa dari Alloh SWT.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang para sahabat yang ekonominya lemah mengadu kepada Rosululloh SAW. mereka mengadu bahwa sahabat yang punya kecukupan harta melakukan shalat dan puasa sebagaimana mereka melakukan tapi sahabat yang kaya bersedekah dengan kelebihan harta. kemudian Rasululloh mengajarkan bahwa dzikir, amar ma'ruf nahi mungkar juga sedekah, kemudia mereka bertanya kembali bukankah sahabat yang kaya juga bisa melakukan demikian?, rosululloh menjawab "itulah anugrah Alloh yang akan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki".
Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa ketika kelebihan berupa harta, kesehatan, dan kedudukan di gunakan untuk meningkatkan kualitas Ibadah kepada Alloh SWT, ini akan menjadi jalan menuju Surga tempat kebahagian hakiki di sisi Alloh SWT.

Sengsara di Dunia Bahagia di Akhirat
nasib ini di alami sebagian besar orang beriman sebagai ujian di Dunia
Alloh SWT berfirman
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [al Baqarah/2:155-157]

Bahagia di Dunia Sengsara di Akhirat
Ini adalah Gambaran sebagian orang kafir dan durhaka. Dimana mereka bergelimang harta dari hasil kerja tanpa mempedulikan halal haramnya dan menggunakan kedudukan dan kekuasaannya untuk bersikap dzolim dan juga kehidupannya diliputi kemaksiatan dan hura-hura
Alloh SWT berfirman
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras(Q.S. Luqman : 24)

Sengsara di dunia dan di Akhirat
Inilah manusia yang paling celaka. Dimana hidup miskin, susah payah mencari sesuap nasi, hutang bertumpuk kemudian diburu penagih hutang atau terkena sakit-sakitan yang tidak kunjung membaik dan tidak ada biaya berobat. Dan di Akhirat mereka tidak punya harapan mendapat kebahagiaan karena Iman sama seali tidak tumbuh dalam hati ataupun penuh dengan kesyirikan sehingga sampai akhir hayatnya merekan mati dalam keadaan kafir. Dan di akhirat api menyala-nyala sudah siap membakarnya, Na'udzu billah semoga kita terhindar dari yang demikian.
pejagailmu.blogspot.com

Sungguh masih ada kesempatanuntuk memilih dan berbuat, semoga kita selalu diberi kesadaran dan hidayah untuk selalu bersyukur baik saat kekurangan ataupun kebahagiaan di dunia kita masih punya keimanan dan ketaqwaan kepada alloh sebagai bekal kehidupan Akhirat yang kekal. Wallohua'lam bishawab.

Dunia Sandiwara

Dalam Kerancuan
bimbangkan diri
dalam laku bertingkah terbaik
bagai dua sisi mata
pejagailmu.blogspot.combenar sangka atau salah sangka
karena keterbatasan mata untuk membaca
membaca Hati yang terhalang

hanyalah sebuah sosok
seperti topeng yang indah diwajah yang buruk
ataupun topeng durjana diwajah mempesona
saat dirundung duka
senyum tawa membahana meraja
saat suka menyapa
terdiamlah membungkam dalam sunyi
mensyukuri dalam hati
dalam lirih berucap
peranan kehidupan
saat ksatria licik terus mengakali
sedang penjahat baik hati menyebar bakti

seperti sebuah metamorfosis kesepian
saat menegerti diri bukanlah dia atau mereka
namun diri tetaplah diri yang utuh
diri yang mengilhami segala laku
bukankah semua akan di papar kan kembali di kehidupan nanti?
(pejaga ilmu)